kauselaludihatiku

apa yang terkirim dari-Nya; orang-orang terbaik dan tercinta, yang mengkhianati, jalan hidup, saat-saat sulit, kebahagiaan, dan semua yang menghampiri dalam hidupku, hingga ke hal-hal yang remah, adalah nikmat untuk dikenang, diresapi, dihayati, dan ditangkap moment-moment puitiknya; untuk disimpan dalam hati. untuk segala itu; kauselaludihatiku.

Name: jeppe

lelaki, majalengka-tiga dekade silam, jakarta.

Friday, August 28, 2009

6th anniversary

Bukan ucapan "Ayo sahur, Bi" yang membangunkanku dini hari tadi, melainkan "Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang..", sembari lembut ummi mengecup hangat keningku. Meski agak berat kelopak mata membuka, namun aku membalasnya dengan senyum dan jawaban setulusnya, "Selamat ulang tahun, Sayang...".

Ya, hari ini, 28 Agustus 2009, adalah ulang tahun keenam hari pernikahan kami. Belum bisa dibilang sebuah perjalanan yang sudah panjang memang, tapi tetaplah sesuatu yang harus kami syukuri dan banggakan. Tapi tak juga harus membuat kami lengah, karena di depan, ujian hidup dan batu sandungan tak pernah sepi menghadang.

Masih terbayang enam tahun lalu, kami menikah dengan segala keterbatasan. Membangun serpihan kebahagiaan, di tengah suasana duka ditinggal ibunda ummi tercinta. Kami lebih percaya, pernikahan ini lebih banyak karena 'campur tangan' Sang maha Kuasa. Selebihnya, hanya niat kuat kami menjalani sisa usia dengan sungguh-sungguh menjadi pasangan suami-istri.

lalu kami menjalani hari-hari itu hingga hari ini...

---

Seperti apa pernikahan yang kami inginkan? Seperti Baginda Muhammad dengan Siti Khadijah? Atau seperti yang mulia Ali r.a dengan wanita terpelihara Fatimah Azzahra? Ah, betapa jauh jaraknya kualitas pernikahan kami dengan dua tauladan mulia ini. Tapi setidaknya, kami ingin sekuat tenaga merujuk pada pasangan-pasangan pilihan ini.

Kami percaya, pernikahan akan selalu menghadapi ujian, juga mendapat keberhasilan sebagai hadiah indahnya. Betapa banyak pasangan yang berhasil melalui ini yang membuat kami iri. Lihat pasangan Ferrasta "Pepeng" Subardi dan Mbak Tami. Menikah duapuluh lima tahun, tetap optimis dan riang meski harus berjuang menghadapi penyakit langka multiple sclerosis (MS). Betapa anak-anaknya bangga melihat kedua orangtuanya selalu seperti pasangan pengantin baru. Lihat juga pasangan selebritis Sophan Sophiaan dan Widyawati. Hanya maut yang memisahkan cita kuat mereka. Atau, lihat juga pasangan Alm. Nita Tilana dan Rully Amanda. Meski pernikahan mereka tak berusia berbilang masa yang panjang, namun mereka telah menunjukkan bukti kuatnya kesetiaan.

Tapi, apakah pernikahan yang berhasil harus diuji seberat itu? Jika aku boleh merengek padaNya di Bulan Ramadhan yang mulia ini, tentu aku ingin berhasil dalam pernikahan tanpa menghadapi ujian sehebat itu. Dan jika Alloh berkehendak memanjangkan usia kami, aku tentu ingin menghabiskannya hanya dalam satu pernikahan ini.

Sebab aku sudah sedemikian percaya pada janjiNya, bahwa kelak Ia akan membuka surga dengan berbagai gerbang, lalu apa salahnya jika aku bermimpi memasukinya melalui pernikahan ini?

Yaa Rabb, hari ini kami sungguh-sungguh berdoa dan berharap, tak ada yang lebih kami inginkan melalui pernikahan ini, melainkan kelak diperkenankan menikmati surga kekalMu...

Monday, February 09, 2009

memberi

Jumat petang, senja remang, langit tak jingga, tapi kelabu tertutup gelayut mendung. Awan yang berarak berat, bersiap mencurahkan beban uap airnya. Sesaat kemudian, Cipinang basah dikirim dingin hujan.

Bengkel sepeda tetap riuh meski hujan. Beberapa mekanik dan pengunjung terlihat sibuk dengan sepedanya, tak ada yang terusik hujan. Barangkali tak semua menyadari, seorang lelaki tampak menuntun sepeda MTB 24" dengan bungkusan dagangan di bagasi depan, kuyup memasuki halaman bengkel. Ia tampak bingung mencari mekanik, atau pemilik bengkel. Beberapa saat tak ada yang menanggapi.

Seorang teman yang sedang menunggu hujan reda di bengkel, berinisiatif bertanya kepada lelaki yang sepertinya berasal dari papua itu.

"Ada perlu apa, Pak?"
"Mau tambal ban, Mas. Sepeda saya bocor", jawab lelaki itu, sambil menunjuk speda tuanya"
"Sebentar ya, Pak. Maaf ini lagi pada sibuk semua, ditunggu aja", temanku mencoba membuat lelaki itu tak gusar menunggu.

"De, entar kalo dah kelar, tolongin bapak itu dulu", temanku kemudian meminta Ade, mekanik bengkel itu untuk segera melayani lelaki itu.

"Siap, boss. bentar nih dah kelar, tinggal motong sisa kabel FD", kata Ade sang mekanik.

Ade kemudian bergegas meninggalkan Specialized coklat itu, untuk segera menambal ban bocor sebuah sepeda tua.

Ban bocor kemudian dibongkar.

"Wah Pak, ini ban dalemnya udah harus ganti, ban luarnya juga. kalo ban luar gak ganti, ini tetep aja bikin ban dalam gampang bocor" Kata Ade ke lelaki tua itu.

"Berapa ya Mas kalo ganti semua?" lelaki itu agak gugup bertanya.

"35 ribu Pak, saya kasih ban yang bagusan"

Lelaki itu itu terhenyak, sambil mebuka dompet lusuhnya yang basah kehujanan.

"Wah, uang saya gak cukup, Mas. Ganti ban dalamnya aja ya. kalo bisa yang murah aja" ucapnya kemudian

Ade kemudian bergegas ke gudang mengambil ban dalam baru, langkahnya diikuti temanku. Kemudian teman saya berbisik di telinga Ade. Ade terlihat memberi isyarat mengiyakan.

Dari Gudang, Ade membawa ban dalam dan luar baru, kemudian memasangkannya di sepeda tua itu. Lelaki itu, buru-buru mencegah.

"Mas, saya cuma minta ganti ban dalamnya aja.."

"gak apa-apa Pak, yang nyuruh bapak itu" kata Ade sambil menunjuk teman saya.

Lelaki itu meoleh ke teman saya, kemudian menghampiri dan menyalami.

"Makasih Mas, tapi saya tadi gak minta kan ya, Mas?"

Teman saya tersenyum, dan menjawab "Gak apa-apa pak, Bapak kan perlu sepedanya buat kerja"

Sepeda tua itu itu kini punya ban baru. Lelaki itu terlihat bahagia, tapi juga sedikit sungkan kepada temanku.

"Mas, saya pamit dulu, terima kasih sekali, semoga Mas bertambah rejekinya"

Temanku hanya tersenyum, tak menjawab apa-apa. Kemudian lelaki itu pergi, dan saya memandanginya hingga lenyap di tikungan.

Sore itu, aku tidak cemburu dengan Sepeda KHS DJ yang temanku dapatkan. Tapi aku sangat cemburu dengan ban sepeda yang ia berikan...

Tuhan, terima kasih, aku memiliki seorang teman seperti dia....

Monday, December 17, 2007

puisi menemani belajar

pada saat menemani anakku belajar membaca;
"b..u, bu, l.. a, la, n... bulan"
tiba-tiba purnama bercahaya,
di bulat paras
wajahnya



pada saat menemani anakku belajar berhitung;
"1.., 2.., 3.., 4...."
satu persatu bintang di angkasa dipetiknya,
dan disematkan, hingga berpendaran
memenuhi ruang
dadanya

pada saat menemani anakku belajar menggambar pelangi;
berpuluh warna digoreskannya
di tembok rumah kami,
sehingga tak kupercayai lagi
bianglala hanya tujuh warna saja
mejikuhibiniu
seperti kata buku-buku
(dan di ujung pelangi anakku menggambar bidadari,
"ini ibuku.." ujarnya berseri-seri

---
buat rana, anakku sayang

Thursday, December 13, 2007

malaikat

desember adalah bulan kelahiran ibu. ibu yang sangat aku cintai.

inget di suatu desember, duduk berdua dengan ibu di bangku panjang sebuah ruang kantor pegadaian. sambil menunggu juru taksir menghargai kalung kesayangan ibu, aku berbisik ke daun telinga ibu.

"jika Alloh menciptakan malaikat berwujud manusia, itu pasti ibu"

"salah, nak". kata ibu.

"itu pasti kamu". ucapnya penuh kelembutan.

kemudian, beberapa lembar rupiah yang aku terima dari hasil ibu menggadaikan kalung di kantor pegadaian itu, tak ingin satu rupiah pun aku sia-siakan. hatiku semakin kuat untuk segera menyelesaikan skripsi. dan di halaman pertama, pasti, kutuliskan persembahan buat ibu!

setiap desember, cintaku selau bertambah tebal buat ibu!

Tuesday, December 04, 2007

kasur koran

hari sabtu terakhir di bulan september, ada acara off air dan on air di MU Cafe sarinah. rame. pengunjungnya pasti bisa ditebak berasal dari latar belakang ekonomi apa. wangi, fashioned, dan tentunya tak ada yang terlihat tak ceria.

nyaris tengah malam, acara baru usai. satu persatu pengunjung mulai beranjak pergi. menyisakan gelas-gelas soft drink yang tak sepenuhnya habis. beberapa hidangan makanan juga bersisa. stage tak lagi memainkan lagu top 40. hanya beberapa captain dan anak buahnya sibuk membersihkan meja-meja.

aku juga letih. beberapa saat berkemas, kemudian meninggalkan cafe bernuansa merah itu. escalator pendek sudah berhenti berputar, tapi ruas thamrin masih saja padat tersiram lampu kendaraan. jakarta bener-bener memanjakan mata.

tapi saat itu pula, wajah lain jakarta yang getir dan murung terlihat di pelupuk mata. di ujung eskalator, seorang anak lelaki usia belasan, memangku adik perempuannya. dinyanyikannya lagu anak-anak sembari mengusap rambut merah adiknya. selembar koran kemudian digelar untuk mengantar kantuk adiknya. gelas kertas bekas minuman dari restoran fast food ternama, berisi beberapa keping rupiah saja, teronggok sepi di samping mereka. samar aku mendengar sang kakak berbisik di telinga adiknya, "tidur neng, abang jagain kalo ada yang gangguin".

sepanjang jalan pulang menuju rumah, bayangan kedua anak itu tak bisa hilang dari pelupuk mata.

---

Anak gadisku, Rana namanya-dua tahun usianya, suka sekali bermain rumah-rumahan sepulang aku kerja. di balik kain batik yang dibentangkan menjadi serupa tenda, aku selalu mengajaknya berdoa, "semoga teman-teman Rana di luar sana, yang tak punya rumah, yang tidur beralas koran, yang sedang sakit, lapar, atau menangis karena tak ada susu; mereka dianugerahi rejeki, perlindungan, dan kehangatan oleh Awwoh.. (Rana belum fasih benar menyebut nama Tuhannya). di penghujung doa, Rana selalu mengucap amin dengan nyaring sambil mengusap wajah lucunya.

dan selalu sebelum ia tidur, Rana menitipkan harapan kepada Abinya; "nanti Nana mau jadi doktel, nanti Nana sembuhin temen Nana.."

semoga, kisah dua anak dengan kasur koran yang aku ceritakan, menjernihkan mata hatinya.

Saturday, July 23, 2005

si jago, jumat siang ia pergi, jumat siang ia kembali


Seusai mengirim doa-doa singkat, dan belum juga aku beranjak dari masjid teduh ini, sebaris SMS muncul dari layar HP yang baru diaktifkan; "Bi, tadi ketika saat sholat Jumat, sepeda bmx kita ada yang ngambil. ini salah Ummi, gerbangnya lupa dikunci..." Aku lemas. terbayang Si Jago, sepeda bmx kesayangan kami. Ia kini lenyap. ia mungkin berharga tak seberapa bagi yang lain, tapi bagi kami, ia adalah bagian dari denyut hari-hari kami. Si Jago, bmx silver itu, mencatat banyak kenangan di tahun-tahun pertama pernikahan kami. Betapa ia setia menemani aku malam-malam menjemput Ummi turun dari metromini di halte kelurahan. Atau setiap minggu pagi, ummi selalu duduk menyamping di palang besi bmx itu, sementara aku mengayuh sambil menyandarkan dagu di ubun-ubun ummi. Kami sering berboncengan di tengah tatapan mata tetangga yang meyaksikan dunia kanak-kanak kami. Ah, kami mungkin tak bisa melakukan keriangan itu lagi dengan si jago. Diam-diam, di beranda mesjid, sesuatu yang hangat dan bening, aku tahan untuk tidak jatuh meleleh dari dua bola mataku. Aku nyaris menangis untuk si jago !

SMS kedua datang; "Bi, tadi Anggi, Ojak, dan teman-temannya, udah nyari-nyari. tapi gak ketemu. kayaknya kita harus ikhlas..." . Perlahan aku semakin kehilangan bayangan si jago. Bayangan sepeda yang setia mengantar mencari makanan saat ummi nyidam ini itu. Terbayang pula sepeda yang mengantar ke lapangan sepakbola; juga bayangan sepeda yang dengan bangga seringkali aku ajak kayuh ke tempat kerja. Ah Jago, kenapa kamu pergi? aku masih terdiam. Hanya sebaris SMS balasan aku kirimkan; "Ummi, semoga kelak kita dapat gantinya, yang lebih baik. Mungkin si pengambil perlu untuk antar koran..." Sebelum benar-benar meninggalkan beranda mesjid, sebaris doa aku kirimkan; "Jago, semoga kau memberi kebahagiaan bagi yang lain. Amiin.."

---

Jumat siang, hampir dua tahun setelah Si Jago pergi...

Di beranda mesjid yang sama, sebaris SMS mampir sesaat setelah alcatel tua diaktifkan. "Bi, ini orang Rodalink kirim sepedanya. Polygon Astroz bukan yang Abi pesan?"

Alhamdulillaah. Sepeda impian sudah datang!

Kini, aku mulai aktif lagi bersepeda; ke kantor, ke warung, atau menikmati akhir pekan. Kepergian Si Jago, mengajarkan kami lebih tentang arti memiliki. Dan setiap mengendarai astroz ini, nikmatnya tiada terhingga.

Setiap Jumat, dan hari-hari lainnya, aku selalu percaya, Dia akan menjawab doa-doa kita !

Saturday, July 16, 2005

yang terhormat

kemarin, nyaris tengah malam, iseng nonton live talkshow di sebuah tv swasta tentang rencana kenaikan gaji dan tunjangan anggota dewan yang terhormat. amboi, fantastis juga ternyata (kalo jadi) angka kenaikannya.

aku jadi teringat banyak hal, juga banyak orang yang nota bene diwakili anggota dewan yang terhormat itu. pertama yang teringat, adalah tulang-tulang iga yang menyembul dari dada bayi-bayi yang terkena busung lapar, kemudian para tkw yang ternistakan jauh di luar negeri sana, kemudian berkelebat pula bayangan para guru-polisi-tentara-perawat-penjaga lintasan kereta-atau hansip yang tetap menunjukkan dedikasi terbaiknya meski gaji mereka jauh dibawah anggota dewan sekarang (apalagi jika gaji anggota dewan itu jadi naik). teringat pula daerah kering kerontang di gunung kidul, wonogiri, pacitan, grobogan, dan banyak daerah lainnya yang lebih membutuhkan bantuan. lalu terlintas gambaran suram para pengangguran, ancaman putus sekolah, biaya pendidikan yang tak lagi masuk akal, bbm langka, atau para koruptor yang selalu saja bisa terbebas dari jerat hukum. berikutnya, menyusul terbayang pedagang kaki lima dipukuli aparat, pemulung menggendong mayat anaknya, sesak dan hiruk penumpang krl yang akhirnya betabrakan dan memakan banyak korban jiwa. lalu untuk 'prestasi' itu semuakah gaji anggota dewan harus naik sekarang juga?

rasanya, belum banyak yang bisa diperbuat bapak/ibu penghuni gedung parlemen yang terhormat itu. dan rasanya pula, sungguh, mereka tak mewakili siapa pun di negeri ini. kecuali diri mereka sendiri.

terlebih pada saat mereka meminta naik gaji !

----

(jadi teringat kata-kata shishio makoto, musuh besar kenshin 'battoshai' himura dalam animasi 'samurai-x' : "...untuk menjadi orang orang besar, kau harus merasa bahwa kepentinganmu selalu berada di atas kepentingan orang lain !"...)